Beranda > Keluarga, Pendidikan > Peran Muslimah dalam Mewujudkan Generasi Berkualitas

Peran Muslimah dalam Mewujudkan Generasi Berkualitas

Adalah kenyataan sejarah bahwa sebuah generasi sangat menentukan eksistensi dan perjalanan sebuah bangsa atau umat. Kejayaan dan kehancuran suatu bangsa tergantung kepada kualitas generasi yang mengembannya. Hal mendasar yang sangat menentukan kualitas sebuah generasi adalah pemikirannya. Pemikiran yang cemerlang akan mengantarkan suatu bangsa untuk dapat memimpin umat manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia. Sejalan dengan hal tersebut Islam pun telah menempatkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi, sebagaimana firman Allah SWT :
…………Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (TQS. Al Mujaadilah: 11)
Islam merupakan agama yang tidak saja mengatur kehidupan ritual, tetapi juga memiliki seperangkat aturan dan hukum yang menata seluruh aspek interaksi antar umat manusia di dunia. Kesempurnaan Islam ini telah terbukti mampu mengubah generasi yang tadinya ummiy (buta huruf ) dan jahilliy (bodoh/rusak) menjadi sebuah generasi yang mumpuni. Bahkan mampu membangun sebuah peradaban manusia yang khas, yang menyinari hampir seluruh bangsa di dunia dan kejayaannya bertahan selama empat belas abad.

Gambaran Generasi Berkualitas
Faktor yang paling menentukan kualitas generasi Islam adalah keimanan dan keilmuannya. Pembentukan generasi dalam pandangan Islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai ketinggian teknologi dan ilmu pengetahuan semata. Target utama pembentukan generasi adalah untuk mencetak generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, lalu dengan dorongan keimanan tersebutlah teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji dan dikembangkan. Artinya, keimanan menjadi dasar bagi keilmuan seseorang. Lebih jelasnya, gambaran generasi berkualitas dalam pandangan Islam adalah sebagai berikut:

Pertama, generasi yang berkepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyah).
Sosok generasi yang bersyakhshiyyah Islam adalah generasi yang memiliki keimanan kuat terhadap Islam (Aqidah Islam), lalu aqidah Islam tersebut dijadikan sebagai landasan dan standar satu-satunya dalam pola berpikir (Aqliyah) dan pola bersikapnya (Nafsiyah). Semua aktivitas dan problem dalam kehidupan, baik di keluarga, masyarakat maupun negara ditata dan diselesaikan berdasarkan petunjuk yang datang dari Islam (Syari’at Islam). Oleh karena itu, penanaman pemahaman yang utuh dan kokoh terhadap Aqidah Islam menjadi penentu utama terbentuknya generasi berkualitas.
Generasi yang bersyakhshiyah Islamiyah (berkepribadian Islam) memiliki gaya hidup (way of life) yang khas, dimana segala aktivitasnya di dasarkan pada aqidah Islam. Tak peduli apakah gaya hidup Islamnya dimata masyarakat kebanyakan dianggap sesuatu yang aneh. Karena mereka sadar bahwa saat ini Islam memang telah menjadi sesuatu yang asing, bahkan bagi umatnya sendiri. Umat Islam telah jauh dari memahami Islam apalagi menerapkannya, kecuali hanya dalam perkara ibadah mahdloh saja. Sementara dalam masalah pakaian, makanan, pergaulan, muamalah, hak dan kewajiban dalam keluarga, penataan interaksi di masyarakat dan penataan sistem kenegaraan, masyarakat mengambil sistem hidup kapitalis sekuler dan membuang jauh sistem hidup Islam.
Bagi generasi yang bersyakhshiyah Islamiyah, kenyataan yang ada di masyarakat bukanlah parameter mereka untuk berbuat, tetapi aqidah Islam-lah yang harus dipegang kuat. Mereka yakin bahwa hanya Islam yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Sehingga ketika mereka melihat kenyataan yang berbeda dan bertentangan dengan aqidah Islam, akan menjadi tantangan bagi mereka untuk merubahnya. Secara proaktif generasi yang bersyakhshiyyah Islam akan terus menerus menggerakkan perubahan di masyarakat menuju kehidupan yang Islami. Generasi bersyakhshiyah Islam akan berusaha semaksimal mungkin menjadi teladan dan motor perjuangan Islam yang nyata di tengah masyarakat.

Kedua, generasi yang berjiwa pemimpin.
Islam datang dengan membawa seperangkat aturan yang sempurna yang menjamin terselesaikannya seluruh problematika kehidupan manusia sampai akhir zaman. Pemikiran-pemikiran yang bersifat mendasar (menyingkap hakikat penciptaan dan kehidupan manusia dan hubungannya dengan Sang Pencipta) dan menyeluruh (meliputi seluruh jenis interaksi manusia) menjadikan Islam bersifat universal. Penerapan Syari’at Islam tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja, tetapi merupakan rahmat bagi seluruh manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (TQS. Al Anbiyaa’ : 107)
Karakter Islam yang demikian itulah yang mendorong umatnya untuk menyebarkan dan memperjuang Islam demi tegaknya Syariat Islam di muka bumi, karena Islam tidak sekedar memperbaiki individu, tapi juga masyarakat, negara dan dunia seluruhnya. Hal ini yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemimpinan dalam diri umat atau generasi Islam. Generasi yang tidak hanya mementingkan kesenangan hidup di dunia dengan mengejar materi, bermain-main dan berhura-hura (gaya hidup materialistik hedonistik). Tetapi sebuah generasi yang serius dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan tegaknya Islam hingga menyinari seluruh alam. Generasi yang memberikan keteladanan dan mengajak umat manusia untuk mengambil jalan Islam.Generasi yang berjiwa pemimpin tampak dari tanggung jawabnya terhadap segala aktivitas dalam kehidupannya. Pemahaman Islam yang mengkristal pada dirinya mendorong untuk siap bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Baik pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, bahkan umat di seluruh dunia.

Ketiga, mampu mengarungi hidup berdasarkan aqidah Islam.
Seseorang yang memahami Islam secara jernih dan mendalam akan menemukan jawaban, bahwa hanya dengan aqidah Islam semua persoalan baik persoalan pribadi, keluarga maupun masyarakat dan dunia seluruhnya akan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan memahami bahwa tujuan hidup manusia adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah swt, Sang Pencipta manusia dan alam semesta, maka sudah selayaknyalah manusia harus mengatur segala aktivitas dan menyelesaikan semua problem hidupnya dengan tuntunan Syari’at Allah yang sempurna yaitu Islam. Karena Islam telah menyediakan solusi yang akan mengantarkan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat kelak.
Generasi yang mendapatkan pembinaan untuk mengokohkan aqidah Islam dalam dirinya, akan mampu mengarungi medan kehidupan dengan penuh keberanian. Tidak ada hal yang patut ditakuti kecuali murka Allah. Hidupnya hanya diabdikan kepada Allah, pantang putus asa dan menyerah pada problem atau konflik yang melanda kehidupannya.

Peran Muslimah Dalam Pembentukan Generasi Berkualitas
Membentuk generasi dengan kualitas seperti gambaran di atas, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada satu proses yang harus dilalui dan proses itu dimulai sejak dini. Dalam proses pembentukan generasi melalui pendidikan anak sejak dini, keluarga mempunyai peran strategis, terutama sosok muslimah sebagai ibu mempunyai konstribusi yang cukup besar. Ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak mempunyai indikasi, bahwa peran ibu sangat vital sebagai pencetak generasi sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya oleh anak.
Terlebih lagi, sesungguhnya anak bagaikan ’radar’yang dapat menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak. Apabila seorang ibu mempunyai kepribadian yang agung dan tingkat ketaqwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik. Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan. Di samping itu, anak sendiri membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berfikir. Ia belum mampu menerjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur ibu akan membuat anak mampu menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya, karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai.
Ibu juga mempersiapkan pribadi seorang anak untuk peka terhadap lingkungannya, sehingga di kemudian hari anak mampu untuk menghadapi tantangan zaman, bahkan mampu menundukkan lingkungan dan masyarakatnya untuk tunduk pada aturan Allah SWT.
Mengingat besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pembentukan generasi berkualitas, perlu diupayakan pengembalian peran ibu agar sesuai dengan fungsinya. Selain itu juga perlu diupayakan peningkatan kualitas ibu, karena tinggi rendahnya kualitas ibu sangat mempengaruhi kualitas anak. Untuk itu terwujudnya figur ibu ideal merupakan langkah awal untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Secara garis besar, kriteria ibu ideal yang dibutuhkan dalam mendidik anak-anak sejak dini adalah :

1. Memiliki aqidah dan kepribadan Islam
Ibu yang memiliki aqidah yang kuat akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir. Ibu yang seperti ini akan menggembleng anaknya dengan keimanan yang kokoh sejak kecil, memperkenalkan pada anak siapa penciptanya, menghindarkan anak dari segala bentuk kesyirikan dan mengajarkan anak untuk tunduk patuh pada aturan Pencipta, sehingga anak memahami hakekat dan tujuan kehidupannya.
Ibu juga harus memiliki kepribadian Islam yang kuat. Artinya menjadikan aqidah Islam sebagai standar berfikir maupun dalam bersikap. Dengan memiliki aqidah yang kuat dan kepribadian yang agung, ibu akan layak untuk dijadikan sebagai teladan bagi anak-anaknya dengan sifat-sifat seorang pendidik, antara lain ikhlas, penyayang dan memiliki bahasa yang baik.

2. Memiliki kesadaran untuk mendidik anak-anaknya sebagai aset umat
Ibu yang baik, tidak hanya mendidik anaknya sekedar agar sang anak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan merawat orang tuanya di masa tua. Akan tetapi ia juga senantiasa mengarahkan anaknya untuk berjuang menjalankan perintah Allah, yaitu beramar ma’ruf nahi munkar. Ibu yang memiliki kesadaran yang seperti ini senantiasa memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya dan berupaya membangun lingkungan yang kondusif demi terjaganya tumbuh kembang generasi-calon pemimpin masa depan umat.

3. Mengetahui dan menguasai tentang konsep pendidikan anak
Wawasan dan keilmuan yang tinggi sangat diperlukan bagi ibu sebagai seorang pendidik generasi. Demikian pula dengan memahami kondisi perkembangan anak, baik aspek fisik, naluri maupun fikirnya dituntut bagi ibu untuk menguasainya. Dengan mengetahui konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan program-program yang wajib ia jalankan, ibu akan mampu memenuhi seluruh hak-hak anaknya.

Solusi Efektif
Dari paparan di atas, jelaslah bahwa muslimah mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan generasi umat, yaitu sebagai seorang ibu. Namun hendaknya dipahami bahwa sosok ibu berkualitas tersebut tidak bisa didapatkan dengan hanya berdiam diri. Perlu dilakukan pembinaan secara rutin dan berkesinambungan agar para ibu memiliki aqidah dan berkepribadian islam yang tinggi, serta memahami cara mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan perkembangan fisik, mental dan spiritualnya. Pembinaan ibu semacam ini akan mudah dilakukan jika terdapat suasana dan sistem yang kondusif, karena sistemlah yang akan memasukkan program peningkatan kualitas ibu, maupun sarana dan prasarananya.
Adapun solusi praktis untuk membumikan fungsi ibu sebagi pendidik pertama dan utama saat ini adalah mengajak mereka, para ibu yang berkualitas untuk kembali ke rumah, mendidik anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang, sekaligus memberi contoh dan teladan bagi para ibu lainnya yang mengalami kesulitan mendidik anak-anaknya. Ibu-ibu yang berkualitas ini haruslah dikembalikan kepada fitrahnya sebagai seorang ibu yang memiliki tugas dan tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sedangkan bagi para ibu yang kurang berkualitas, maka harus ada upaya untuk meningkatkan kualitasnya. Demikian pula untuk ibu yang mengharuskan dirinya keluar rumah untuk bekerja, karena kebutuhan ekonomi, peningkatan kualitasnya sebagai pendidik anak tidak boleh terabaikan.
Akhirnya, mencetak ibu yang berkualitas bukanlah hal yang mustahil. Islam mampu membentuk ibu berkualitas yang menjadi tauladan zaman, seperti ibunda Khalifah Umar bin Abdul ’Aziz seorang khalifah yang mampu menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin dengan baik, ibunda Imam Syafi’i yang mendidik anaknya sehingga menjadi seorang mujtahid, ataupun ibunda Imam Al Bukhari seorang ahli hadits terkenal. Sekarang, kita pun mampu menjadi sosok calon ibu atau ibu yang mulia, yang akan melahirkan generasi yang siap menaklukkan dunia agar tunduk pada hukum Allah SWT, asal kita MAU.

Wallahu a’alam bish showab.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: