Beranda > Dzikir dan doa > Malu Atas Doa Yang Kita Panjatkan

Malu Atas Doa Yang Kita Panjatkan

“Mengapa doa-doa saya belum terkabulkan setelah sekian lama?” tanya seorang jemaah kepada gurunya. Sang guru berdehem. Ia bukannya gak mau jawab, tapi pertanyaan ini sudah berulang kali ia terima dari jemaah pengajian seputar masalah yang tidak jauh berbeda, yakni tentang kapan Allah mengijabah doa.

Rasanya sudah banyak jawaban yang pernah diutarakan oleh sang ustadz, namun kali ini ia harus mencari cara lain untuk bisa membuat jemaah ini mengerti, paham dan selalu husnuzhon kepada Allah Swt.

“Memang sering kita berdoa kepada Allah, namun sepertinya Allah Swt belum juga memenuhi hajat kita” jelas sang ustadz membuka jawaban.

“Namun ketahuilah bahwa banyak orang meminta harta yang banyak kepada Allah Swt dalam doanya. Ada juga yang minta agar naik jabatan. Ada pula yang berdoa agar diberikan jodoh yang cantik, sholihah, dan lain sebagainya. Belum lagi permintaan ini dan itu sepuas hati mereka! Tidak sedikit manusia yang berdoa kepada Allah Swt dengan nafsu syahwat mereka… Segala hal terbaik ingin mereka minta, sebab ia percaya bahwa Allah Sang Pemberi Anugerah akan sangat mudah mengabulkan permintaan mereka…. Namun sayang mereka maunya menang sendiri. Selalu minta, namun jarang memberi! Minta yang manis, tidak mau yang pahit! Padahal mereka belum mengerti bahwa kalau saja Allah Swt memberi apa yang mereka inginkan, belum tentu hal itu membawa kebaikan untuk mereka….” jelas pak ustadz.

“dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. 2:216)

Itulah sifat manusia yang mengira bahwa mereka suka berdoa untuk diberikan anugerah apa yang mereka kira baik, padahal Allah Swt mengijabah doa mereka dengan tidak mengabulkan permintaannya!

Coba anda bayangkan, apabila setiap makhluk Allah Swt ciptakan semuanya kaya raya seperti yang mereka inginkan, apa jadinya dunia ini?!

Betapa banyak manusia yang ingin mendapatkan jabatan. Ia mengira bahwa bila ia menjabat ia akan banyak melakukan kebaikan, namun begitu diberikan rupanya ia tidak siap menerimanya sehingga jabatan bukan lagi sebagai anugerah, namun menjadi musibah.

Maka makna yang terpenting yang harus menjadi pelajaran bagi kita adalah bagaimana kita bisa senantiasa menyetel hati & pikiran kita untuk senantiasa ridha atas keputusan Allah Swt.

Mau Allah Swt buat hidup kita lapang atau sempit, kita selalu berucap hamdalah. Mau Dia bikin hidup kita senang or susah, gak ada masalah. Atau Allah Swt angkat derajat kita kemudian ia jatuhkanpun juga gak apa-apa. Yang penting asal Allah Swt ridho kepada kita, maka kita pun juga akan selalu ridha kepada-Nya.

**

Inilah sebuah kisah yang termaktub dalam shahih Bukhari tentang permohonan para sahabat kepada Rasulullah Saw.

Siang itu Rasulullah Saw sedang menyampaikan khutbah Jum’at. Dalam keheningan dan kekhusyukan khutbah, maka terdengar teriakan orang-orang yang berdiri dan berseru kepada beliau, “Ya Rasulullah, kemarau berkepanjangan. Pepohonan kering dan hewan ternak mati kehausan. Mohon kiranya Anda berdoa kepada Allah Swt agar berkenan menurunkan hujan.”

Rasulullah Saw lalu berdoa kepada Allah Swt, “Allahummas qinaa… Ya Allah berilah kami hujan… turunkan untuk kami hujan!”

Maka Allah Swt pun mengijabah permintaan Nabinya. Maka angin pun meniupkan awan hingga berkumpul. Mendung pun menanungi manusia. Hingga saat Rasulullah Saw turun dari mimbar maka hujan pun turun membasahi bumi.

Celakanya, saking mustajab doa Rasulullah Saw tersebut maka hujan tidak berhenti turun hingga hari Jum’at berikutnya. Maka manusia pun menjadi resah sebab anugerah yang terlalu kebanyakan.

Saat Rasulullah Saw berkhutbah di Jum’at berikutnya, maka lagi-lagi beberapa orang

berdiri mengiterupsi khutbah beliau. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, hujan yang turun ini terlalu banyak hingga rumah-rumah rusak dan jalan menjadi becek. Mohon kiranya Anda sudi untuk berdoa agar Allah Swt menghentikannya.”

Mendengarnya Rasulullah Saw tersenyum… Lalu sejurus kemudian beliau Saw berdoa, “Allahumma hawalina la alaina…. Ya Allah, buatlah hujan turun di sekeliling kami bukan di atas kepala kami.”

Maka atas doa sang Nabi Saw, Allah pun menghentikan hujan di Madinah, namun masih menurunkannya di luar batas kota Madinah.

Itulah kisah permintaan doa manusia yang pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw. Pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas adalah bahwa kita harus mengakui bahwa kita suka memaksakan kehendak pribadi saat kita berdoa kepada Allah Swt.

Kebodohan dan keterbatasan ilmu kita mengisyaratkan bahwa kita mengira bahwa apa yang kita inginkan adalah hal yang terbaik. Padahal begitu Allah Swt kabulkan apa yang kita inginkan, malah itu menjadi hal yang merepotkan bagi diri kita.

Tidakkah kita merasa malu kepada Allah Swt saat ia menyingkapkan suatu saat kepada kita bahwa apa yang kita minta rupanya amat buruk bagi kita?!

Maka jadikan hatimu senantiasa ridha atas keputusan-Nya!

http://ervakurniawan.wordpress.com/2009/11/03/suka-malu-sendiri-atas-doa-yang-kita-panjatkan/

Kategori:Dzikir dan doa Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: