Beranda > Tasawuf > Ketika Sufi Dianggap Musyrik, Justru Para Sufi Lebih Fasih Bicara Kemusyrikan

Ketika Sufi Dianggap Musyrik, Justru Para Sufi Lebih Fasih Bicara Kemusyrikan

Pemahaman yang dianut Salafy Wahabi itu memang aneh tapi nyata. Di mana-mana para aktivis Salafy Wahabi mengkampanyekan bahwa para sufi adalah kaum musyrik. Mereka menulis propaganda hitamnya itu di berbagai mass media, baik di dunia nyata maupun di jagad internet. Kampanye mereka yang gigih tersebut memang  membuahkan hasil gemilang. Sekarang ini semakin banyak anak-anak muda menjadi latah berteriak bahwa para sufi adalah musyrikin. Para pemuda korban penipuan gaya Salafy Wahabi itu tidak merasakan kalau diri mereka sudah kena tipu habis-habisan.

Sungguh kita merasa kasihan, makanya postingan ini kami persembahkan dengan segenap rasa cinta, semoga para korban kebohongan Salafy Wahabi itu segera menemukan dirinya telah terpedaya oleh propaganda hitam dan murahan. Bahkan sampai hari ini kampanye hitam tentang tasawuf dan para sufi masih terus menerus dikobarkan, seakan-akan mereka sudah benar-benar di atas kebenaran.

Tahukah anda bahwa para sufi itu ternyata lebih fasih dibanding kaum Wahabi ketika menjelaskan tentang seluk beluk kemusyrikan? Kami akan suguhkan fakta tentang penjelasan bermutu tinggi yang mengupas tuntas apa itu musyrik dan kemusyrikan. Penjelasan disampaikan oleh seorang Mursyid (guru pembimbing sufi) bernama KH. MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI dari Semarang.

Berikut ini adalah penjelasan beliau dalam kajian sebuah kitab tasawuf Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atho’illah ( Abu Fadhil Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman Ibnu Atho’illah ).  Tokoh Sufi dan ilmu tasawwuf  legendaris yang hidup  sezaman dengan Ibnu Taymiyah ini, bahkan diantara keduanya pernah “BERDEBAT” secara langsung di sebuah Masjid seusai Shalat Isa’. Insyaallah nanti akan kami posting  juga kisah perdebatan mereka yang pasti seru dan berhikmah,  sekaligus membuktikan bahwa para tokoh Sufi adalah orang-orang Shalih yang brilliant.

Sekarang mari kita ikuti penjelasan KH. MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI tentang kemusyrikan dan atau ksyirikan yang juga merupakan penjelasan mendetail dan ecxelent….

“Ngaji Kitab Al-HIKAM Karya Ibnu Atho’llah”

=============================================================

IMAN CAMPUR SYIRIK


Dijelaskan oleh: KH.  MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

كَمَا لاَيُحِبُّ العَمَلَ اْلمُشْتَرَكَ كَذَلِكَ لاَيُحِبُّ اْلقَلْبَ اْلمُشْتَرِكَ , العَمَلُ اْلمُشْتَرَكَ لاَيَقْبَلُهُ وَاْلقَلْبُ اْلمُشْتَرِكُ لاَيُقْبِلُ عَلَيْهِ

Seperti Allah tidak menyukai amal yang bersekutu, demikian pula Allah juga tidak menyukai hati yang syirik. Allah tidak menerima amal yang bersekutu, maka hati yang syirik tidak diterima di sisi-Nya.

Yang dimaksud ‘Amal Bersekutu’ dalam pembahasan ini adalah amal ibadah yang mengandung unsur syirik karena mempunyai banyak tujuan. Tujuan utamanya sebenarnya cuma dua, yakni dunia dan sekaligus akhirat. Dari dua dasar tujuan itu pelaksanaannya bisa berkembang kepada tujuan lain. Seperti contoh ada sekelompok orang mengadakan istighotsah masal misalnya, dengan istighotsah itu mereka beribadah dan berdo’a kepada Allah untuk keselamatan umat. Mereka memohon perlindungan kepadaNya agar terhindar dari fitnah, marabahaya, musibah dan lain-lain, baik di dunia maupun diakhirat.

Apabila tujuannya amal perbuatan itu benar-benar hanya untuk kepentingan umat, maka itu berarti istighotsah yang benar. Para pelaksana dan pengikutnya akan mendapatkan pahala dan ijabah dariNya. Namun sayangnya seringkali yang terjadi dalam fenomena tidak demikian. Istighotsah tersebut kebanyakan secara terang-terangan ditunggangi kepentingan pilitik. Mereka mengumpulkan para Kiai yang kharismatik agar umat mau berbondong-bondong datang dengan alasan untuk beribadah padahal tujuan utamanya untuk mendirikan partai politik baru atau paling tidak supaya orang mau memilih calon pejabat yang sudah mereka tetapkan. Amal perbuatan seperti itu disamping merupakan amal perbuatan yang tidak disukai Allah SWT, karena bercampur dengan syirik dan tidak akan diterima disisiNya, juga berarti, mereka itu mengadakan pembodohan publik. Para pelaksananya bahkan terjebak dalam perbuatan munafik, dalam arti luarnya baik tetapi dalamnya busuk.

Berbeda dengan keadaan orang-orang yang secara lahir pekerjaannya seakan-akan hanya mencari kehidupan duniawi. Siangnya bekerja baik di sawah, di pasar maupun di kantor bahkan sebagai tukang sampah sekalipun. Sambil berdo’a mereka bekerja keras untuk mencari karunia Allah di muka bumi. Malam harinya bertahajjud di hadapan Allah, disamping untuk bersyukur atas segala karunia, juga supaya apa yang sudah didapatkan mendapat keberkahan dan yang belum didapatkan akan mendapat kemudahan. Dengan pola hidup seperti itu, ternyata kemudian hidupnya benar-benar mendapatkan keberkahan. Selanjutnya, asal pemilikan duniawi yang diinginkan itu bukan menjadi tujuan yang utama, tetapi hanya dijadikan sebagai sarana untuk menyempurnakan kehidupan agamanya. Meskipun di dalam ibadah dan do’a itu terdapat dua tujuan, yakni mencari kenikmatan duniawi dan kenikmatan ukhrowi, namun itu hakekatnya hanya bertujuan satu yaitu kehidupan akhirat dan amal tersebut tidak termasuk yang dikatagorikan sebagai ‘amal bersekutu’.

Yang dimaksud amal bersekutu itu bisa jadi berupa amalan horizontal maupun fertikal. Amal fertikal itu seperti orang melaksanakan mujahadah, dzikir dan wirid-wirid yang diistiqomahkan pada setiap pagi dan petang. Amal tersebut yang mestinya dijadikan sarana oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kapada Allah supaya hatinya menjadi suci dan bersih. Melaksanakan tazkiyah secara ruhaniah supaya matahatinya cemerlang dan mendapatkan ma’rifatullah. Apabila amal utama itu dilakukan untuk tujuan duniawi, seperti untuk mencari harta karun ghaib yang diyakini adanya oleh sekelompok orang, atau supaya pelakunya menjadi orang sakti madraguna, atau supaya orang bisa mengobati orang sakit dengan itu dia mendapatkan sumber kehidupan. Apabila tujuan amal fertikal tersebut ujung-ujungnya urusan duniawi, meskipun amal yang dilakukan itu dengan membaca kalimat dzikir atau mendawamkan membaca asma’ul husna, amal tersebut bisa dikatagorikan sebagai amal bersekutu.

Demikian pula amalan horizontal, seperti shodaqoh dan zakat, apabila niatnya tidak semata-mata melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada Allah, tetapi dicampuri tujuan riya’, berbangga-banggaan dan menyebut-nyebutnya hingga menyakiti hati orang yang menerima, amal seperti itu bisa dikatagorikan sebagai amal bersekutu. Shodaqoh dan zakat yang dicampuri tujuan riya’ dan menyakitkan hati itu tidak diterima disisi Allah. Allah menegaskan dengan firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”.(QS.al-Baqoroh(2)264)

Rasulullah SAW. menegaskan pula dalam sabdanya:

حَدِيثُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Diriwayatkan dari Sayidina Umar bin al-Khattab ra berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niatnya. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikut niatnya. Barangsiapa berhijrah kerana Allah dan RasulNya, maka Hijrahnya itu kerana Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau kerana seorang perempuan yang ingin dikahwininya maka hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya (HR.Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’ie, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad Ibnu Hambal)

Jika amal yang bercampur syirik saja tidak diterima di sisi Allah, terlebih lagi hati yang syirik, karena ‘hati’ merupakan satu-satunya alat komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang yang hatinya syirik itu akan hidup terasing, do’anya tidak dikabulkan, pintu munajatnya tertutup. Dia lebih rentan terjebak dalam perbuatan munafik sehingga terputus dari rahmat, petunjuk dan pertolongan Allah yang akhirnya berakibat hidupnya menjadi terkucil. Allah menggambarkan keadaan itu dengan firmanNya:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.(QS.al-Hajj(22)31)

Orang yang hatinya ada penyakit syirik itu sesungguhnya juga adalah orang beriman, dalam arti percaya kepada Allah dan rasulNya, namun dalam hatinya terkadang terjangkit harap dan takut kepada selain Allah. Imannya yang lemah tidak mampu menjawab kenyataan hidup yang terkadang memang suka datang menghimpit perasaan. Semisal ketika sedang dihadapkan keadaan yang mengancam, maka hatinya segera menoleh kepada selain Allah untuk mencari perlindungan dan keselamatan. Padahal orang beriman tidak boleh berharap dan takut kepada selain Allah, karena mereka percaya bahwa tidak ada yang mempunyai kekuatan kecuali hanya Allah Ta’ala. Tidak ada yang dapat menghidupkan dan yang mematikan kecuali hanya Allah Ta’ala.

Orang beriman tidak boleh menyandarkan harapan hidup kecuali hanya kepada Allah. Tidak boleh memohon pertolongan maupun perlindungan kecuali hanya kepada Allah. Tidak boleh takut terkena marabahaya baik di dunia maupun di akhirat kecuali hanya kepada Allah. Apabila hal tersebut dilakukan padahal dia itu orang yang mengerjakan sholat, puasa Ramadhan dan kuwajiban-kuwajiban yang lain, maka itu merupakan pertanda dalam hatinya masih ada penyakit syirik.

Orang mendapat keberhasilan hidup misalnya. Dia berhasil menggapai keberuntungan yang diharapkan, namun kemudian merasa bahwa keberhasilan itu hanya disebabkan ilmu pengetahuan dan kemampuannya yang prima. Hanya karena telah melaksanakan infestasi yang benar hingga mendapatkan keuntungan besar. Hanya karena keahliannya dalam menghadapi tantangan dan rintangan sehingga mendapatkan keberhasilan. Dia tidak pernah mengakui bahwa segala keberhasilan itu sejatinya datang semata anugerah Allah kepadanya. Orang seperti itu berarti telah berbuat syirik, bahkan itulah hekakatnya syirik. Karena telah menyejajarkan dirinya dengan Allah Ta’ala. Dalam arti mengakui hak Rububiyah Allah Ta’ala sebagai hak pribadinya. Allah memberikan contoh tentang syirik ini dengan firman-Nya:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ – العنكبوت:29/65

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah). QS:29/25.

Penumpang kapal itu disebut berbuat syirik, hal itu disebabkan, karena ketika mereka diselamatkan dari badai laut, namun begitu sampai di darat, saat itu juga mereka ingat hanya angin topan yang berbelok arah, bukan Allah yang telah menyelamatkan mereka dengan membelokkan arah angin topan. Mereka berkata: “Untung angin itu berbelok kekanan seandainya terus pasti kita semua akan binasa”. Pernyataan seperti itu menggambarkan adanya syirik dalam hati mereka. Dalam arti menyekutukan Allah Ta’ala dengan angin topan dalam dua hal, angin topan itu mampu menghidupkan dan mematikan seseorang. Padahal sebelum itu mereka tidak pernah berdo’a kepada angin topan, tetapi kepada Allah Ta’ala.

Orang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik. Ketika Allah mengabulkan do’a-do’anya dan dia mendapatkan rizki yang diharapkan itu, tentunya datangnya rizki itu pasti melalui proses hukum sebab akibat sebagaimana lazimnya kejadian di dunia, namun dia menganggap hanya terjadi dari sebab usahanya sendiri, dan berkata: “Seandainya saya tidak bersekolah tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin saya mendapatkan rizki yang baik ini”. Yang demikian itu juga disebut syirik, bahkan bisa dikatakan mengaku sebagai tuhan karena telah menyamakan Allah dengan dirinya sendiri.

Walhasil, orang yang hatinya syirik itu bukan hanya orang-orang yang suka bepergian jauh untuk mencari kuburan-kuburan keramat kemudian minta berkah kepada kuburan. Mencari dukun-dukun sakti untuk memesan jimat bertuah supaya hidupnya mendapat keselamatan. Orang yang dalam hatinya ada unsur syirik itu justru kebanyakannya malah tinggal diam di rumah. Mereka mengerjakan sholat dan puasa tetapi hatinya menganggap dirinya sebagai tuhan, karena merasa hanya ilmu pengetahuan dan usahanya saja yang telah menjadi sebab dia menjadi orang sukses dan mendapat kemuliaan. Di depan orang banyak bibirnya selalu mengucap¬kan kalimat syukur, tetapi saat berangan-angan sendiri hatinya dipenuhi kecongkaan atas keberhasilan hidup yang dirasakan itu. Itulah pertanda hati yang syirik, selama penyakit hati yang kronis itu belum mampu dibersihkan, maka sampai kapanpun do’a-do’anya tidak mendapatkan ijabah dariNya.

http://ummatiummati.wordpress.com/2011/01/18/ketika-sufi-dianggap-musyrik-justru-para-sufi-lebih-fasih-bicara-kemusyrikan/

Kategori:Tasawuf Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: