Beranda > Renungan > Resolusi Syukur

Resolusi Syukur

Apa gerangan yang terjadi jika dalam satu tahun sepi tanpa perayaan? Sebut saja hari lahir, hari pernikahan, hari raya Idul Fitri, hari ibu, hari lahir Rasulullah, tahun baru (terlepas apakah itu Masehi ataupun Hijriyah) atau hari istimewa lainnya. Tentu saja setahun akan berjalan dengan sangat datar, bukan?

Sejatinya, hari-hari itu ada sebagai momentum untuk menyegarkan kembali diri kita. Apapun perayaannya. Jika waktu terus berdetik, maka hari-hari itu adalah sebuah kesempatan yang Allah berikan untuk kita berdiam sejenak dan menengok apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu serta untuk merenda asa di masa depan.

Saat Maulid Nabi, misalnya, kita disegarkan kembali mengenai betapa rahmat Allah berupa kekasih-Nya telah turun di dunia. Seberapa seringkah kita ber-shalawat untuk Rasulullah? Bagaimana kita memperlakukan Nabi junjungan kita di masa selanjutnya? Atau saat berulang tahun. Seberapa bijakkah kita mengartikan waktu yang masih Allah berikan pada kita dan apa yang akan kita helat untuk waktu yang tersuguh di depan? Begitu pun saat memasuki pergantian tahun (Hijriyah atau pun Masehi). Serentet resolusi dan harapan mulai memenuhi benak. Mulai dari ingin menjadi pribadi yang lebih baik sampai membuat list barang yang sudah diimpi-impikan. Serenceng rencana seperti memiliki kendaraan roda empat, memiliki momongan, lulus kuliah, membeli rumah, dan atau menambah pasangan hidup membuat diri menjadi sibuk dan bergairah kembali.

Rencana atas nama resolusi kebanyakan hal-hal yang sebelumnya masih belum dimiliki. Jika kemarin berusaha mempunyai pekerjaan maka sekarang berencana mencari pendamping hidup. Setelah puas dengan kendaraan roda dua lalu menginginkan menginjak pedal gas dalam ruang beroda empat yang sejuk ber-AC. Demikian seterusnya. Mengejar sebuah hal yang belum ada di tangan agar dapat dapat segera ada dalam genggaman tentu membuat adrenalin berdesir kencang. Hidup pun terasa lebih semangat. Sekarang pertanyaannya: Apakah jika kesemuanya tercapai membuat kita merasa cukup?

Dalam pola hidup dan masyarakat yang rentan dengan stres, terkadang mengejar nikmat yang belum dimiliki tak hanya menimbulkan semangat, tetapi juga berefek perasaan risau. Bahkan tak jarang demi sebuah resolusi dan perubahan seseorang terjebak pada kondisi ‘ngoyo’ mengejar apa yang didambakan. Saking merindukan yang dirindukan dan masih di awang-awang untuk segera ada dalam pelukan. Kalau sudah begini, apakah hidup menjadi lebih hidup? Tentunya tidak.

Nikmat Allah itu luas. Mencakup semua yang dibutuhkan hamba-Nya. Dan kesemuanya itu sudah berada dalam pengaturan Allah yang Maha Besar. Maka apa-apa yang belum kita miliki sebaiknya tak perlu diresahkan. Seperti pada firman Allah:
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31).

Nah, saat nikmat sudah demikian baiknya diatur oleh Allah, kini mengapa kita juga tidak menyibukkan diri dengan mensyukuri atas apa yang telah Ia berikan. Maka jika resolusi atas apa yang belum dimiliki begitu semangatnya ditulis, alangkah baiknya jika resolusi bersyukur atas apa yang sudah teraih pun tak kehilangan gairah. Apakah kita sudah berterima kasih dengan cara yang Allah cintai untuk semua nikmat, rencana indah, petunjuk, dan pertolongan yang sudah Ia anugerahkan? Semoga demikian atau setidaknya kita telah mengusahakannya.

Ya, mari kita giat bersyukur. Bersyukur memberikan kita perasaan ‘cukup’ karena Allah telah berjanji barang siapa yang bersyukur maka nikmatnya akan ditambah. Seperti yang tersurat pada Al-Quran:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akanmenambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Bersyukurlah, maka kita akan dicukupkan. Jauhilah berangan-angan karena menjadikan kita selalu merasa kekurangan. Janganlah risau atas nikmat Allah yang belum dimiliki, risaulah dengan nikmat Allah yang belum disyukuri. Semoga harapan dan usaha kita tak sekadar angan-angan dan apa yang diusahkan merupakan perwujudan syukur kita pada Allah. Wallahu ‘alam.[shelvy]

http://www.alifmagz.com/resolusi-syukur/

Kategori:Renungan Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: